
Allah Tidak Pernah Meninggalkan Kita Februari 3, 2009
From Kuliah Online Wisata Hati
Andai kita menebus segala kesalahan kita dengan dunia yang kita punya, lalu kita mendapati Allah di sisi kita, tentu ini adalah proses pendekatan diri kepada Allah yang murah adanya.
Seorang bapak datang dalam keadaan bermasalah. Namun berbeda dengan yang lain. Ia datang dengan senyuman. Ia berbagi pengalaman, bahwa ia senang Allah bangkrutkan.
Saya sudah tahu kemana arahnya pembicaraan dia. Tapi saya biarkan.
“Kalau saya tidak dibangkrutkan Allah, saya sudah akan terlalu jauh dari Allah,” begitu katanya. “Sangat jauh malah. Saya banyak bermaksiat dengan rizki dan jalan yang justru sesungguhnya diberikan oleh Allah,” katanya lagi.
Saya kemudian bertanya sedikit kepadanya, “Apa yang didapat setelah jauh dari Allah?”
“Ketidaktenangan. Ketidaktahuan tujuan hidup. Dan yang lebih jelas lagi, dosa”.
“Dosa?”
“Ya, dosa. Makin lama Allah biarkan saya dalam kekayaan, makin banyak rasanya dosa saya. Jangankan urusan yang nyata-nyata sebagai dosa. Urusan meninggalkan shalat sunnah saja kan sebenernya dosa. Ngentengin sunnah. Begitu kan kata Ustadz?”
“Ya. Betul. Ngentengin sunnah juga merupakan dosa. Kalau terlalu lama ninggalin sunnah, ya bermasalah juga jadinya. Apalagi kalau yang ditinggalkan itu adalah sunnah-sunnah muakkad; sunnah tahajjud, sunnah dhuha, sunnah qabliyah ba’diyah”.
“Nah ustadz, saya bahkan mulai menyepelekan shalat wajib. Saya ngebayangin, betapa saya menzalimi Allah yang sangat sayang kepada saya. Hingga saya bersyukur bahwa saya diberi-Nya karunia kejatuhan ini”.
Luar biasa. Sahabat saya ini sudah berhasil menaruh baik sangkanya kepada Allah, dan berhasil memetik hikmahnya
Terus, apa yang terjadi?”, tanya saya lebih lanjut kepada beliau.
“Ya, namanya orang bangkrut, hidup saya penuh dengan masalah. Tapi semakin besar masalah saya, semakin saya bersyukur. Dalem sekali rasa syukur saya. Saya anggap, beban masalah saya adalah pengurangan dosa saya. Semakin berat, maka akan semakin besar pengurangannya. Saya ikhlas menjalani ini ustadz. Ridha sekali. Daripada dipendem di kuburan yang mengerikan, ini saya terima. Saya terima perlakuan dan intimidasi orang-orang yang uangnya di saya dan saya tidak bisa mengembalikan. Saya terima cacian dan makian keluarga saya, saya terima sikap tidak pedulinya kawan-kawan yang kadang menyakitkan saya sebab saya begitu memperhatikan mereka. Saya terima semuanya.”
Bukan saya berbangga diri. Dia cerita bahwa buku Mencari Tuhan Yang Hilang, buku perdana saya, yang sudah lumayan membentuk kepribadian dia ini. Alhamdulillah, katanya, buku tersebut banyak berisi persoalan-persoalan tauhid, iman, kepasrahan, tanggung jawab, amal saleh, dan lain-lain sebagai bekal di soal kehidupan
“Apa doa saudara setelah saudara dekat dengan Allah?”, pancing saya.
“Saya berdoa, agar masalah saya jangan cepat selesai kalau saya belum kuat imannya. Biar saja saya begini dulu. Dunia ramai sekali di luar diri saya, tapi saya merasakan hebatnya bersepi-sepi dengan Allah”.
“Terus, nasihat apa yang saudara harapkan dari saya?”
“Saya hanya pengen ketemu ustadz saja. Ga lebih”.
Dia bicara banyak sekali. Dan saya kira, kedatangannya justru nasihat untuk diri saya. Semakin kaya, semestinya makin hebat shalat wajibnya, makin rajin shalat sunnahnya. Makin jaya, makin bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah. Makin berterima kasih pada-Nya. Bukan sebaliknya. Terlalu mahal tebusannya bila kita tergolong sebagai golongan orang-orang yang melupakan Allah.
Dia juga mengingatkan tentang diri saya sekian tahun yang lalu. Ketika saya pompa diri ini, bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan saya. Allah tidak akan pernah mengabaikan saya. Allah tidak akan pernah tidak mau menolong. Allah akan selalu menolong. Orang ini mengingatkan saya banget-banget, bahwa ketika Allah ada di kehidupan kita, maka segalanya akan mengalir bahagia. Biarlah Allah yang mengatur hidup kita. Biarlah. Hingga nanti saatnya datang, Allah akan mengulurkan pertolongan-Nya, dan mengangkat derajat kita. Sementara itu, Allah mempersiapkan diri kita untuk menjadi individu yang lebih baik lagi yang lebih hebat lagi. Maka manakalah Allah sudah mengangkat kembali hidup kita, insya Allah dengan izin-Nya, kita akan menjadi manusia-manusia yang banyak manfaatnya.
“Ustadz, sungguh, saya sedang menunggu takdir Allah terhadap diri saya. Saya belajar dari ustadz. Saya mau memahami bahwa eposide kehidupan saya belumlah berakhir di sini. Masih panjang kan Ustadz…?”.
Saya selanjutnya membiarkan ia bicara. Kelihatan sekali sebenernya tatapan matanya hampir kosong. Namun iman di hatinya, dan secercah ilmu, sudah menjadi bara di tengah kehampaannya. Semoga ia kuat. Dan dia pasti kuat, insya Allah. Allah teramat suka sama manusia-manusia yang percaya bahwa diri-Nya pasti mengatur yang terbaik.
MENGAPA MESTI MENGKHIANATI ISTRI? Februari 2, 2009
Tadi malam saya menghadiri tujuh malam wafatnya istri seorang teman, saya mendapatkan suasana yang begitu mengharukan. Bagaimana tidak. Sang suami dengan terbata-bata, memberikan nasihat kepada semua yang hadir mengenai makna cinta seorang istri. Setelah istrinya wafat barulah ia sadar betapa penting dan berartinya seorang istri yang selama ini selalu diremehkan. Saya tertegun mendengar nasihatnya, saya lalu membayangkan wajah istri saya, Falia, yang telah 19 tahun menemani dalam keadaan susah dan senang. Banyak sudah kami mengalami pahit getirnya hidup, manisnya malam pertama, indahnya kala dikaruniai anak, titipan Ilaahi. Saya lalu melihat wajah para suami yang hadir, sebagian besar meneteskan air matanya, meski malu-malu.
Saya lalu teringat dengan ucapan sahabat ‘Umar bin Khaththab ra kala mengungkapkan rasa sayangnya kepada istrinya, “Ia (istriku) telah bersabar atasku. Ia mencuci pakaianku, membentangkan tempat tidurku, mendidik anak-anakku, membersihkan rumahku. Ia melakukan semua itu, padahal Allah tidak memerintahkannya untuk berbuat hal yang demikian. Ia melakukan semua itu demi ketaatan dan tetap bersabar atas semua itu, maka bagaimana mungkin aku tidak bisa bersabar jika ia mengangkat suaranya?”
Ucapan ‘Umar ra benar. Maka coba Anda bertanya dalam hati, apa yang sudah Anda berikan kepada istri? Bukankah ketika ia masih hidup bersama orang tuanya, semua ia terima secara gratis? Kasih-sayang, pakaian, pendidikan, dan perhiasan diberikan tanpa harus ia mencuci pakaiannya sendiri, membersihkan kamar pakaian, atau memberikan imbalan kepada ayah dan ibunya? Bukankah atas nama cinta lalu ia rela mengerjakan semua pekerjaan-pekerjaan sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat ‘Umar ra untuk Anda?
Di dunia ini, tidak ada seorang pun yang bisa hidup tanpa cinta. Amru Khalid berkata, “Kalau saja naluri alami ini tidak Allah ciptakan, niscaya manusia tidak akan mempunyai harapan untuk meneruskan hidup atau berkembang biak. Naluri inilah yang menjadi salah satu sebab yang menjadikan alam tetap berjalan terus. Jadi, mana mungkin kita bisa berpikir untuk menghilangkan atau pun membuangnya dari kehidupan kita. Tidak mungkin juga kita berpura-pura menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak ada.”
Tapi cinta juga dapat membawa bencana yang besar, jika kita salah dalam memaknai cinta. Betapa banyak hubungan antara laki-laki dan perempuan yang hidup atas nama cinta, tanpa pernikahan, telah membuat pihak perempuan menderita. Berapa banyak pemuda dan pemudi yang bertemu, lalu merasakan cinta, dan sadar bahwa mereka telah melakukan kesalahan, kemudian memperbaiki kesalahannya dengan cara melakukan pernikahan siri (di bawah tangan). Atas nama cinta dan menghindari terjadinya zina, mereka merasa telah menemukan solusi. Tentu ini sangat mengherankan, sebuah kesalahan diperbaiki dengan kesalahan yang lain. Pasalnya, pernikahan yang mereka lakukan hanya untuk melampiaskan hawa nafsu dan syahwat. ‘Ending’ ceritanya sudah hampir bisa ditebak, beberapa bulan kemudian sang suami pun pergi meninggalkan sang istri.
Saya termasuk orang yang senang membaca novel atau cerita cinta. Saya sangat menikmati novel karya Habiburrahman El-Shirazy berjudul “Ayat-ayat Cinta.” Dulu saya sangat terkesan dengan roman klasik Romeo dan Juliet. Tapi setelah membaca kisah-kasih cinta Rasulullah saw dengan Khadijah, semua romantisme yang dibangun oleh para pengarang atas dasar khayalan dan fantasi itu pun tersingkirkan. Saya mendapatkan sebuah kisah cinta yang paling hakiki yang pernah ada di muka bumi ini. Cinta yang tetap berlanjut dan bersemi walau Khadijah telah wafat. Sementara cinta Romeo dan Juliet, atau Qais dan Lailah tak pernah berakhir dengan pernikahan.
Saya akan mengajak Anda merasakan betapa dahsyatnya cinta yang diberikan oleh Rasulullah saw kepada Khadijah. Saya mengutip dari kitab ‘Kalaam Min al-Qalbi’ (Dengarkan Suara Hati) karya Amru Khalid. Dikisahkan bahwa, setahun setelah wafatnya Khadijah, datanglah seorang wanita dari sahabat beliau yang berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak akan menikah lagi? Padahal engkau mempunyai tujuh keluarga yang siap menerima permintaanmu. Perkawinan adalah perkara yang harus diputuskan oleh setiap laki-laki.” Nabi saw pun menangis dan berkata, “Adakah seseorang yang aku cintai setelah Khadijah.”
Beliau tak pernah melupakan istri pertamanya ini, hingga empat belas tahun sepeninggalnya. Saat penaklukan kota Makkah, orang-orang berkumpul di sekeliling beliau. Kaum Quraisy, semuanya datang kepada beliau untuk meminta maaf. Saat itu, seorang wanita tua datang kepadanya dari kejauhan. Rasulullah saw pun meninggalkan semua orang untuk bertemu dan berbicara dengannya. Beliau melepaskan mantelnya, dan membentangkannya di atas tanah. Beliau duduk bersama wanita tua itu di atasnya.
Aisyah bertanya, “Siapakah wanita yang Rasulullah telah memberikan semua waktu dan perhatian kepadanya?” Beliau menjawab, “Dia adalah sahabat Khadijah.” Aisyah kembali bertanya, “Kalian berdua membicarakan apa wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Kami membicarakan tentang hari-hari Khadijah.” Aisyah pun merasa cemburu dan berkata, “Apa engkau masih mengingat wanita tua itu, padahal ia telah ditutupi tanah (meninggal dunia), padahal Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik?”
Nabi saw pun menjawab, “Demi Allah, Allah tidak menggantikanku dengan orang yang lebih baik darinya. Dia telah menghiburku saat semua manusia mengusirku. Dia juga telah mempercayaiku saat semua manusia mendustaiku.” Aisyah merasa Nabi saw marah. Kemudian ia berkata kepadanya, “Maafkanlah aku wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Minta maaflah kepada Khadijah, hingga aku bisa memaafkanmu.”
Bayangkanlah, bagaimana mungkin cinta itu tetap bersemi, padahal ia telah meninggal sejak empat belas tahun lalu? Inilah potret cinta yang tidak didahului oleh hubungan-hubungan yang diharamkan. Inilah kisah cinta yang membuat saya meneteskan air mata kala menceritakannya dalam setiap sharing bersama jama’ah. Sebuah perenungan bagi setiap suami untuk tidak mengkhianati cinta istrinya.
Desa Pamulang Barat
23/01/09 pukul 04.00 wib
Sungguh .. malam ini angin cinta berhembus lembut ..!
Dari Facebooknya Bang Asfa Davy Bya, utk di baca oleh teman2
LOWONGAN KERJA 2009 Februari 2, 2009
1. LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH MEMBUTUHKAN BEBERAPA KANDIDAT YANG
SESUAI UNTUK MENGISI BEBERAPA LOWONGAN SEBAGAI BERIKUT:
A. PROJECT MANAGER SECRETARY
- muslimah & berjilbab (usia maks. 28 tahun)
- min D3 (ekonomi, manajemen, sekretaris)
- interaktif & dapat bekerja di bawah tekanan
B. ACCOUNT OFFICER
- pria usia maks. 32 tahun
- min D3
- komunikatif & kreatif
- dapat bekerja sendiri dan bekerja dalam tim
- mampu bekerja dengan target
C. ACCOUNTING
- wanita usia maks. 32 tahun
- min D3 Ekonomi (akuntansi)
- dapat bekerja sesuai jadwal kerja yang ketat
- teliti & dapat bekerja dibawah tekanan
Persyaratan umum:
- pernah mengikuti pelatihan keuangan syariah
- jujur & amanah
2. PERUMAHAN DIKAWASAN CINERE (GRIYA INSANI RESIDENCE) MEMBUTUHKAN
ACCOUNT EXECUTIVE DENGAN KRITERIA SEBAGAI BERIKUT:
- PRIA / WANITA (USIA MAKS. 30 TAHUN)
- MIN D3
- KOMUNIKATIF & INTERAKTIF
- BERPENAMPILAN RAPI & PROPORSIONAL
- DAPAT BEKERJA DENGAN TARGET
- MEMILIKI JARINGAN YANG LUAS
KIRIM LAMARAN, CV LENGKAP DAN PAS FOTO 4X6 BERWARNA KE:
CANADIAN BROADWAY CB-F NO. 29
KOTA WISATA – CIBUBUR 16968
cantumkan kode posisi pada lamaran:
SEC – SECRETARY
AO – ACCOUNT OFFICER
ACC – ACCOUNTING
AE – ACCOUNT EXECUTIVE
Pernikahan Februari 2, 2009
Pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasul SAW dan merupakan anjuran
agama. Pernikahan yang disebut dalam Quran sebagai miitsaaqun ghaliizh,
perjanjian agung, bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi,
bukan semata-mata sarana mendapatkan keturunan, dan apalagi hanya sebagai
penyaluran libido seksualitas atau pelampiasan nafsu syahwat belaka.
Penikahan adalah amanah dan tanggungjawab. Bagi pasangan yang masing-masing
mempunyai niat tulus untuk membangun mahligai kehidupan bersama dan
menyadari bahwa pernikahan ialah tanggungjawab dan amanah, maka pernikahan
mereka bisa menjadi sorga. Apalagi, bila keduanya saling menyintai.
Nabi Muhammad SAW telah bersabda yang artinya, “Perhatikanlah baik-baik
istri-istri kalian. Mereka di samping kalian ibarat titipan, amanat yang
harus kalian jaga. Mereka kalian jemput melalui amanah Allah dan kalimahNya.
Maka pergaulilah mereka dengan baik, jangan kalian lalimi, dan penuhilah
hak-hak mereka.”
Ketika berbicara tentang tanggungjawab kita, Rasulullah SAW antara lain juga
menyebutkan bahwa “suami adalah penggembala dalam keluarganya dan akan
dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya dan isteri adalah penggembala
dalam rumah suaminya dan bertanggungjawab atas gembalaannya. “
Begitulah, laki-laki dan perempuan yang telah diikat atas nama Allah dalam
sebuah pernikahan, masing-masing terhadap yang lain mempunyai hak dan
kewajiban. Suami wajib memenuhi tanggungjawabnya terhadap keluarga dan
anak-anaknya, di antaranya yang terpenting ialah mempergauli mereka dengan
baik. Istri dituntut untuk taat kepada suaminya dan mengatur rumah
tangganya.
Masing-masing dari suami-isteri memikul tanggung jawab bagi keberhasilan
perkawinan mereka untuk mendapatkan ridha Tuhan mereka. Apabila
masing-masing lebih memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya terhadap
pasangannya daripada menuntut haknya saja, Insya Allah, keharmonisan dan
kebahagian hidup mereka akan lestari sampai Hari Akhir. Sebaliknya, apabila
masing-masing hanya melihat haknya sendiri karena merasa memiliki kelebihan
atau melihat kekurangan dari yang lain, maka kehidupan mereka akan menjadi
beban yang sering kali tak tertahankan.
Masing-masing, laki-laki dan perempuan, secara fitri mempunyai kelebihan dan
kekurangannnya sendiri-sendiri. Kelebihan-kelebihan itu bukan untuk
diperbanggakan atau diperirikan. Kekurangan-kekurang pun bukan untuk
diperejekkan atau dibuat merendahkan. Tapi semua itu merupakan peluang bagi
kedua pasangan untuk saling melengkapi. Kedua suami-isteri bersama-sama
berjuang membangun kehidupan keluarga mereka dengan akhlak yang mulia dan
menjaga keselamatan dan keistiqamahannya selalu. Dengan demikian akan
terwujudlah kebahagian hakiki di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah.