Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaytanaa wahablanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhaab. Rabbanaa innaka jaami’un naasi liyawmil laa rayba fiihi innallaaha laa yukhliful mii’aad
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan karuniakan kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk menerima pembalasan pada hari yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyalahi janji.
Acapkali kehidupan dunia yang sedang kita nikmati dan jalani ini membuat oleng pilar-pilar kesadaran keberagamaan kita. Akan banyak ditemukan di planet ini, ketika pagi mereka masih membawa iman sore hari sudah berganti kafir. Jika saat fajar masih berbalut mukena, saat lembayung melintang aurat dibiarkan terbuka. Ketika subuh bibir dibiarkan basah dengan zikir, tapi ketika senja kata-kata kotor dan umpatan pun berhamburan dari tempat yang sama. Na’udzubillah! Dan itu artinya iman kita hanya fatamorgana. Bahkan ibarat buih di lautan lepas yang tidak menggambarkan sebenarnya.
Jika demikian, sungguh rapuh sendi-sendi keberagamaan kita. Baju taqwa yang kita kenakan ternyata tidak cukup lama mendiami kita. Padahal yang utama dan segala-galanya adalah selama-lamanya dalam naungan hidayah-Nya. Kapan, di mana dan dalam kondisi kayak apa pun Allah selalu dilibatkan. Karena Dialah yang Maha waspada dan terus menatap kita. QS Ali Imron, 3/8-9 di atas banyak direkomendasikan ulama untuk dibaca dan diresapi maknanya. Doa untuk tetap terjaga dalam hidayah-Nya. Ya Allah, jangan Engkau cabut lagi hidayah yang telah tertanam dalam hati kami…
